give some information for life

KUTUB MAGNET BUMI MENGALAMI PEMBALIKAN?

Pada tanggal 13 Januari 2011 lalu, label “start” dan “landing” pada landasan-landasan udara di Tampa, Florida, mengalami perubahan sebagai akibat dari pergeseran kutub magnet utara. Hal yang sama juga pernah dialami Bandara Stansted yang terletak di sebelah utara London, Inggris, pada musim panas 2009, dan bandara di pulau Sylt pada tahun 2006. Perubahan yang terjadi pada keseluruhan medan magnet bumi ini juga mengubah kedudukan kutub-kutub magnet. Saat ini kedudukan kutub magnet selatan di depan pantai Antartika masih stabil terhadap Australia, tetapi kutub magnet dari Arktik telah mengalami pergeseran sekitar 1.100 kilometer, dalam kurun waktu 200 tahun belakangan ini. Dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per tahun, saat ini ia bergerak dari Kanada ke Rusia dan secara teoritis akan mencapai Siberia pada tahun 2050 mendatang. Bersamaan dengan pergeseran percepatan dari kutub magnet utara, tercatat suatu penurunan kekuatan medan magnet secara keseluruhan, dalam kurun waktu 150 tahun terakhir ini telah mengalami penurunan sekitar sepuluh persen.

Dan sebuah pembalikan polaritas (kutub) dari medan magnet bumi masih akan terjadi dalam waktu dekat. Para geolog telah mengetahui bahwa akan terjadi pembalikan kutub. Hingga saat ini, telah 730.000 tahun kutub utara dan selatan stabil menduduki posisinya yang sekarang. Sebuah pembalikan polaritas, seperti yang ditentukan oleh para ilmuwan, sudah seharusnya terjadi sejak lama, kejadian semacam itu telah terjadi selama 400 juta tahun belakangan ini, dengan rata-rata terjadi sekali dalam 250.000 tahun. Hal itu diketahui berdasarkan garis-garis batas dari punggung samudera, dimana lava yang mengeras yang ditandai oleh arah medan magnet ketika itu.

Suatu tanda dari pembalikan polaritas adalah, bagian utama dari medan magnet, yang mirip seperti magnet batang telah lenyap total. Pada proses ini, bumi akan kehilangan “payung pelindung magnet“-nya, yang berfungsi melindungi bumi dari proton dan elektron hasil pancaran sinar matahari yang menembus bumi dengan kecepatan beberapa-ratus kilometer per detik.

Namun tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari radiasi pancaran sinar matahari ini, karena biarpun medan magnet tidak ada, jauh di atas atmosfer bumi, masih terdapat sebuah lapisan pelindung magnet.

Pada medan magnet yang eksis, partikel-partikel bermuatan ini dipaksa untuk bergerak tegak lurus terhadap garis-garis medan magnet, dimana mereka dituntun ke daerah kutub. Di sana mereka menjadi “nyata” ketika terjadi badai besar matahari.

Medan magnet dari angin matahari justru akan mengelilingi dan melindungi bumi. Berbagai skenario horor planet bumi tanpa medan magnet yang terancam oleh angin matahari, dan tenggelam dalam kekacauan, seperti manusia terbakar, kerusakan jaringan listrik, dan kemacetan-kemacetan komputer, dengan ini semua hanya tinggal bayangan belaka. Lagipula berdasarkan asumsi selama ini, bahwa proses perubahan polaritas berlangsung selama lebih dari ratusan tahun bahkan dapat mencapai ribuan tahun.

Jika demikian, maka seharusnya bumi akan tertembaki dengan partikel-partikel yang dipancarkan oleh radiasi sinar matahari dalam waktu lama, yang di sejarah tiap kali tentunya akan mengakibatkan sebuah kematian massal. Akan tetapi, para ahli geologi belum pernah menemukan jejak-jejak sebuah kematian massal dari suatu era, yang pernah terjadi sebagai akibat dari pembalikan polaritas. Demikian juga dengan penelitian terhadap mutasi-mutasi yang mungkin terjadi di dunia binatang dan tumbuhan, maupun kenaikan radioaktivitas di endapan-endapan.

Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan hal ini berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang Planet Venus yang tidak memiliki medan magnet. Melalui tumbukan angin matahari di atmosfernya sehingga terbentuklah suatu payung pelindung magnet. Hal yang sama juga akan dialami planet bumi, yang ditegaskan melalui perhitungan-perhitungan komputer. Medan magnet semacam itu akan terbentuk pada siang hari, hanya dalam jangka waktu satu jam di ketinggian 350 kilometer di atmosfer, sehingga bahkan jika seandainya medan magnet bumi lenyap secara total, angin matahari tidak akan membahayakan bumi karena masih terdapat atmosfer yang ditahan oleh medan gravitasi.

Di dalam suatu proses yang sangat rumit, yang baru pada tahun 90-an dapat dilakukan reproduksi di komputer besar oleh para geolog, garis-garis medan magnet yang datang dari matahari di lapisan luar inti bumi yang konduktif, dan cair seperti tali-tali karet yang mirip dengan bentuk-bentuk ombak, diputar dan sekaligus ditarik memanjang. Perpanjangan garis-garis medan magnet mendapatkan energi dari rotasi bumi serta perpindahan panas dari dalam bumi, yang berarti terjadi penguatan pada medan magnet lokal. Dan melalui mekanisme yang lain, garis-garis medan magnet dihapus dan dirajut kembali, sehingga terjadi sebuah medan magnet yang keluar dari badan bumi.  (The Epoch Times / hky)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s